PEMANFAATAN
LIMBAH AMPAS TEBU SEBAGAI SUMBER ZAT ARANG AKTIF UNTUK MENURUNKAN KADAR MERKURI
PADA AIR DI SUNGAI BATANG HARI, JAMBI

Disusun Oleh :
Sarinah Pakpahan (F1C313026)
Mega Handayani (F1C313029)
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2015
Abstrak
Merkuri
merupakan salah satu jenis logam berat yang biasa terkandung dalam air. Adanya
kadar merkuri ini pada air mengakibatkan gangguan kesehatan karena, zat ini
memiliki sifat yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Hal ini disebabkan karena
merkuri memiliki sifat toksik dan karsinogenik pada tubuh manusia. Salah satu
cara yang digunakan manusia untuk menyerap kadar merkuri ini adalah dengan
menggunakan zeolit. Namun, kurangnya tingkat keefisienan bahan ini, memotivasi
peneliti untuk mencari alternative. Dan
cara yang dapat digunakan adalah dengan membuat zat arang aktif dari ampas
tebu. Pembuatan arang aktif ini menggunakan activator AgNO3 dan KOH.
Dimana, pada pengkarbonisasian divariasikan pada suhu 3000C, 4000C
dan 5000C. Dan waktu pengaktivasian dilakukan variasi yaitu 24 jam
dan 48 jam.
Dan dari hasil
penelitian, dapat ditentukan bahwa zat arang aktif yang paliung bagus digunakan
sebagai adsorben adalah pada suhu karbonisasi 3000C dan aktivasi 24
jam.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi sebagian besar
ditopang oleh sektor perkebunan dan pertambangan. Sektor pertambangan merupakan
sektor dengan pangsa kedua terbesar di Jambi (17,55%). Salah satu daerah
pertambangan yang sampai saat ini masih sangat diminati oleh warga Jambi adalah
daerah sepanjang sungai Batang Hari. Dimana masyarakat di sekitar pesisir
sungai Batang Hari menggunakannya sebagai tempat untuk pertambangan emas,
pasir, kerikil dan masih banyak lagi. Namun, banyaknya area pertambangan di
sungai ini membuat sungai ini menjadi tercemar oleh logam- logam berat
seperti Fe, Cu, Cd, Hg, dan lain-lain.
Banyaknya logam berat yang terkandung dalam air, tentu memiliki dampak yang
sangat buruk pada lingkungan maupun pada masyarakat di sekitarnya.
Merkuri (Hg ) mempunyai sifat yang sangat beracun, maka U.S.
Food and Administrasion (FDA) menentukan pembakuan atau Nilai Ambang Batas
(NAB) kadar merkuri yang ada dalam jaringan tubuh badan air, yaitu sebesar
0,005 ppm. Nilai ambang batas yaitu suatu keadaan dimana suatu larutan kimia,
dalam hal ini merkuri dianggap belum membahayakan bagi kesehatan manusia. Kadar
merkuri jika sudah melampaui NAB dalam air atau makanan, maka air maupun
makanan yang diperoleh dari tempat tertentu harus dinyatakan berbahaya. NAB air
yang mengandung merkuri total 0,002 ppm baik digunakan untuk perikanan
(Budiono, 2003). Pedoman buku mutu lingkungan menjelaskan bahwa, kadar merkuri
pada makanan yang dikonsumsi langsung maksimum sebesar 0,001 ppm. Kadar merkuri
yang aman dalam darah maksimal 0,04 ppm. Kadar merkuri sebesar 0,1-1 ppm dalam
jaringan sudah dapat menyebabkan munculnya gangguan fungsi tubuh
(Anonymous:2008).
Sementara itu berdasarkan data yang diperoleh, kadar merkuri di
permukaan Mesumai mencapai 0,0008 mg/l, arsenik 0,002 mg/l, dan besi 2,73 mg/l.
Konsentrasi merkuri dan arsenik itu nyaris mendekati batas aman. Kadar besi
sudah sembilan kali lipat ambang itu. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82
Tahun 2001 soal bahan baku air minum, batas aman merkuri 0,001 mg/l, arsenik
0,005 mg/l, dan besi 0,3 mg/l.
Kadar merkuri air permukaan Sungai Tembesi yang menjadi sumber air PDAM Tirta Sako Batuah, Kota Sarolangun, tepat di garis kritis. Di saluran intake PDAM, kadar logam berat itu mencapai 0,001 mg/l, besi 1,39 mg/l, dan arsenik 0,001 mg/l. Kadar merkuri dalam sampel saluran intake PDAM Merangin, yang airnya bersumber dari Sungai Merangin, sama seperti Sungai Mesumai (0,0008 mg/l), arsenik 0,002 mg/l, tetapi kadar besinya empat kali di atas batas aman (1,31 mg/l). Sementara itu (Etty Riany:2014) mengatakan bahwa Cukup 0,01 miligram per liter (mg/l), logam berat itu sudah menyebabkan kematian.(IrmaTambunan :2014)
Kadar merkuri air permukaan Sungai Tembesi yang menjadi sumber air PDAM Tirta Sako Batuah, Kota Sarolangun, tepat di garis kritis. Di saluran intake PDAM, kadar logam berat itu mencapai 0,001 mg/l, besi 1,39 mg/l, dan arsenik 0,001 mg/l. Kadar merkuri dalam sampel saluran intake PDAM Merangin, yang airnya bersumber dari Sungai Merangin, sama seperti Sungai Mesumai (0,0008 mg/l), arsenik 0,002 mg/l, tetapi kadar besinya empat kali di atas batas aman (1,31 mg/l). Sementara itu (Etty Riany:2014) mengatakan bahwa Cukup 0,01 miligram per liter (mg/l), logam berat itu sudah menyebabkan kematian.(IrmaTambunan :2014)
Melihat dampak negative yang akan ditimbulkan oleh
merkuri tersebut, harus dilakukan pengolahan untuk menurunkan kadar limbah ini
agar tidak mengganggu ekosistem di sekitar sungai batang hari.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
pengolahan limbah ini yaitu filtrasi, flokulasi, penghilangan warna, dan
adsorpsi. Proses adsorbsi dilakukan untuk proses penyerapan senyawa yang
mengganggu. Adapun langkah awal untuk proses adsorbs yang efektif adalah dengan
memilih adsorben yang memiliki selektivitas tinggi serta dapat digunakan
berulang-ulang. Adsorben komersial yang dijual di pasaran yaitu : zeolit,
alumina aktif, silica gel, dan karbon aktif (Farid F, 2009).
Karbon aktif merupakan salah satu adsorben yang
dapat diunakan dalam pengolahan limbah cair. Karbon aktif merupakan senyawa
karbon amorf dan dapat dihasilkan dari bahan yang mengandung karbon atau arang
yang diperlakukan dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih
luas. Luas karbon aktif berkisar 300 – 3500 m2/gram. Besarnya
tingkat luas permukaan dari karbon aktif ini menandakan bahwa karbon aktif
memiliki daya serap yang tinggi.
Pada umumnya karbon aktif yang digunakan untuk menyerap
merkuri dan logam berat lainnya dari air adalah zeolit. Namun, hal ini tidak
cukup efisien untuk dilanjutkan. Dimana, zeolit merupakan suatu bahan yang
sangat sulit didapatkan dan harga relatif mahal. Jadi, dibutuhkan suatu
alternatif baru yang dapat digunakan sebagai zat arang aktif, yang lebih
efisien lagi dimana dia mudah didapatkan, ekonomis, dan mudah diproduksi.
Dalam beberapa tahun
terakhir, banyak penelitian telah berfokus pada proses adsorbsi dengan karbon
aktif karena dinilai lebih efektif, preparasi mudah dan pembiayaan yang relatif
murah dibanding metode lainnya. Salah satu material yang dapat dipertimbangkan
sebagai adsorben adalah ampas tebu.
Dengan memanfaatkan kandungan ligno-cellulose
pada ampas tebu,maka bahan ini sangatlah berpotensi sebagai alternatif baru
pengganti zeolit.
Bagasse atau ampas tebu adalah zat padat yang
didapatkan dari sisa pengolahan tebu pada industri pengolahan gula pasir.
Sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar ketel (boiler) yang menghasilkan
limbah hasil pembakaran berupa abu ampas tebu. Abu ampas tebu yang dihasilkan
dari ketel dibedakan menjadi dua macam, antara lain abu terbang yaitu abu ampas
tebuyang keluar lewat bagian atas cerobong dan abu dasar yaitu abu ampas tebu
yang keluar lewat bagian bawah ketel (Srivastava et al., 2005).
Pemanfaatan
abu dasar ampas tebu yang kurang optimal, sedangkan ketersediaan yang melimpah
dan potensi yang dimiliki sebagai adsorben sangat baik sesuai dengan penelitian
(Suksabye, 2011) yang menunjukkan efisiensi dekolorasi lebih besar dari
adsorben dengan bahan baku lainnya, hal ini menjadi pertimbangan untuk
memanfaatkan abu dasar ampas tebu ini menjadi karbon aktif. Karbon aktif adalah
senyawa karbon yang telah diproses dengan cara aktivasi sehingga senyawa
tersebut memiliki pori dan luas permukaan yang sangat besar dengan tujuan untuk
meningkatkan daya adsorpsinya. Karbon aktif merupakan material yang unik karena
memiliki pori dengan ukuran skala molekul (nanometer). Pori tersebut memiliki
gaya Van der Waals yang kuat (Arfan, 2006).
Umumnya
karbon aktif dapat dibuat melalui proses aktivasi fisika maupun kimia.
Penggunaan jenis bahan aktivasi pada proses aktivasi kimia dapat memberikan
pengaruh yang berbeda-beda terhadap luas permukaan maupun volume pori-pori
karbon aktif yang dihasilkan. Proses aktivasi menggunakan bahan aktivasi kalium
hidrosida (KOH) menghasilkan karbon aktif dengan luas permukaan 3000 m2 g-1
(Teng, 1999).
Dari hasil penelitian tersebut maka KOH merupakan
salah satu bahan aktivasi kimia yang baik pada proses aktivasi pembuatan karbon
aktif. Penggunaan bahan aktivasi yang baik diharapkan dapat menghasilkan daya
adsorpsi besar pada pemanfaatan abu dasar ampas tebu (Baggase Botom Ash)
menjadi karbon aktif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh
penambahan konsentrasi KOH terhadap karakterisasi karbon aktif dari abu dasar
ampas tebu (Bagasse Bottom Ash) yang meliputi daya serap iodin dan methylene
blue, berat jenis, kadar air, kadar abu. Mengetahui hasil perlakuan terbaik
yang dilakukan dalam penelitian ini.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dalam melakukan
penelitian ini adalah:
a.
Membuat arang aktif
dari ampas tebu sebagai alternatif untuk mengurangi kadar merkuri di sungai
Batang hari.
1.3 Rumusan Masalah
a.
Kandungan apa yang dimilki oleh ampas tebu sehingga dia dapat diolah menjadi
zat arang
aktif?
b.
Mengapa air di sungai batang hari sangat penting untuk diadsorpsi?
c.
Bagaimana karakteristik zat arang aktif yang dihasilkan dari bagasse (ampas
tebu)?
d.
Apa pengaruh dari waktu aktivasi terhadap keakifan karbon?
e.
Dan apa pengaruh suhu pembakaran ampas terhadap keaktifan karbon?
1.4 Manfaat
a. Dengan
melakukan penelitian menggunakan ampas tebu sebagai bahan karbon aktif
diharapkan dapat menyadarkan para masyarakat sekitar sungai Batang hari
terutama para penambang liar dan serta para homeindustri di sekitar sungai
Batang Hari agar ikut andil dalam pengurangan kadar merkuri di sungai tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ampas Tebu
Ampas
tebu atau bagasse adalah hasil samping dari proses ekstraksi tanaman tebu.
Berdasarkan analisis kimia, ampas tebu memiliki komposisi kimia yaitu, abu 3,28
%, lignin 22,09 %, selulosa 37,65 %, sari 1,81 %, pentosan 27,97 % dan SiO2
3,01 %. Ampas tebu ini dihasilkan sebanyak 32 % dari berat tebu giling (Mirwan,
2005).
Pada
umumnya, pabrik gula di Indonesia memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan bakar
bagi pabrik yang bersangkutan, setelah ampas tebu tersebut mengalami proses
pengeringan.
Dengan kandungan ligno-cellulose serta memiliki panjang seratnya antara 1,7 sampai 2 mm dengan diameter sekitar 20 mikro, sehingga ampas tebu ini secara ekonomis pemanfaatannya tidak hanya sebagai sumber energi bahan bakar semata. Namun ampas tebu ini bisa dimanfaatkan juga sebagai bahan baku untuk industri kertas, industri kanvas rem, industri jamur dan sebagainya.
Dengan kandungan ligno-cellulose serta memiliki panjang seratnya antara 1,7 sampai 2 mm dengan diameter sekitar 20 mikro, sehingga ampas tebu ini secara ekonomis pemanfaatannya tidak hanya sebagai sumber energi bahan bakar semata. Namun ampas tebu ini bisa dimanfaatkan juga sebagai bahan baku untuk industri kertas, industri kanvas rem, industri jamur dan sebagainya.
Bahkan
ampas tebu juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Namun demikian,
ampas tebu yang akan digunakan sebagai bahan pakan ternak masih harus melalui
proses fermentasi menggunakan probiotik yang dimaksudkan untuk meningkatkan
kualitas dan kecernaannya, serta dilakukan penambahan beberapa bahan
untuk melengkapi kebutuhan mineral yang diperlukan dalam bahan pakan tersebut.
Dengan
nilai ekonomis yang ada pada ampas tebu, tidaklah tepat istilah “habis manis sepah
dibuang” diterapkan pada industri gula. Karena pada kenyataannya sepahnya pun
masih memiliki nilai ekonomis.
2.2. Sungai
Batang Hari
Sungai
terpanjang di Pulau Sumatera adalah Batang Hari. Kata batang artinya sungai.
Namun, orang sudah biasa mengatakan Sungai Batang Hari. Bagian terpanjang
Sungai Batang Hari dan muaranya memang terletak di Provinsi Jambi, sebagian
kecil bagian hulunya di Provinsi Sumatera Barat.
Batang Hari (atau Sungai Hari) adalah sungai
terpanjang di pulau
Sumatera sekitar 800 km. Mata airnya
berasal dari Gunung Rasan
(2585 m), dan yang menjadi hulu dari Batang Hari ini adalah sampai kepada Danau Diatas,
yang sekarang masuk kepada wilayah Kabupaten
Solok, provinsi Sumatera
Barat, dan mengalir ke selatan sampai ke
daerah Sungai Pagu,
sebelum berbelok ke arah timur. Aliran dari sungai ini melalui beberapa daerah
yang ada di provinsi Sumatera Barat dan provinsi Jambi,
seperti Kabupaten Solok Selatan,
Kabupaten Dharmasraya,
Kabupaten Bungo,
Kabupaten Tebo,
Kabupaten Batang Hari,
Kota Jambi,
Kabupaten Muaro Jambi
dan Kabupaten Tanjung
Jabung Timur, sebelum lepas ke
perairan timur sumatera dekat Muara Sabak.
Pada
Batang Hari ini ada banyak sungai lain yang bermuara padanya diantaranya Batang Sangir,
Batang Merangin,
Batang Tebo,
Batang Tembesi,
dan lain sebagainya. Sistem aliran sungai ini membawa banyak deposit emas,
sehingga muncul nama legendaris Swarnadwipa
("pulau emas") yang diberikan dalam bahasa
Sanskerta bagi Pulau Sumatera.
Daerah
Aliran Sungai (DAS) Batang Hari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia,
mencakup luas areal tangkapan (catchment
area) ± 4.9 juta Ha. Sekitar 76 % DAS Batang Hari berada pada
provinsi Jambi, sisanya berada pada provinsi Sumatera Barat.
Adanya
aktivitas pertambangan dan kegiatan pengusahaan (eksploitasi) hutan yang
dilakukan secara mekanis sepanjang aliran sungai, telah berdampak terhadap
berubahnya alur sungai, erosi di tepian sungai, pendangkalan atau sedimentasi
yang tinggi di sepanjang aliran DAS Batang Hari terutama sebelah hilir.
Perubahan alur dan arah arus Batang Hari ini mengakibatkan air sungai dengan
cepat naik pada saat musim hujan datang, sebaliknya cepat surut saat musim
kemarau. Hal ini juga diperburuk dengan meningkatnya populasi penduduk terutama
pada daerah transmigrasi sedikit banyaknya akan membebani wilah DAS Batang Hari
itu sendiri.
Aktivitas
diatas mengakibatkan teremarnya sungai Batang hari tersebut oleh logam-lagam
berat seperti Ferrum (Fe), Cadmium (Cd), Publum (Pb), Merkuri (Hg), Posfat (PO4)
dan lain-lain. Banyaknya kandungan logam berat di air tersebut tentu akan
mengakibatkan terganggunya ekosistem di sungai dan juga di sekitar sungai.
2.3 Merkuri
Merkuri
(air raksa, Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan
tersebar dalam batu - batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai
senyawa anorganik dan organik. Merkuri merupakan logam yang dalam keadaan
normal berbentuk cairan berwarna abu-abu, tidak berbau dengan berat molekul
200,59 g/mol, titik lebur -38,9oC, dan
titik didih 356,6oC. Merkuri tidak larut dalam air, alkohol, eter, asam
hidroklorida, hydrogen bromida dan hidrogen iodide, tetapi Merkuri
dapat larut dalam asam sulfat atau asam nitrit, tetapi tahan terhadap basa.
Kelimpahan merkuri di bumi
menempati urutan ke-67 di antara elemen lainnya pada kerak bumi. Merkuri jarang
didapatkan dalam bentuk bebas di alam, tetapi berupa bijih cinnabar (HgS).
Untuk mendapatkan merkuri dari cinnabar, dilakukan pemanasan bijih cinnabar di
udara sehingga menghasilkan logam merkuri (Widowati,dkk,2008).
Kebanyakan logam dan metaloid terdapat
di alam, tersebar dalam batu-batuan, bijih tambang, tanah, air, dan udara.
Tetapi, didistribusinya nyata sekali tidak rata. Umumnya, kadar dalam tanah,
air, dan udara relatif rendah. Kadar ini dapat meningkat bila ada aktivitas
geologi, misalnya pendegasan yang melepaskan 25.000-125.000 ton merkuri
setahun. Aktivitas manusia, misalnya penambangan merkuri
penyumbang sekitar 10.000 ton setahun. (Frank,2006)
Merkuri
merupakan elemen alami, oleh karena itu sering mencemari lingkungan. Sifat-sifat
merkuri membuat logam tersebut banyak digunakan untuk keperluan ilmiah dan
industri. Beberapa sifat tersebut adalah sebagai berikut :
1. Merkuri merupakan satu-satunya logam
yang bebentuk cair pada suhu kamar yaitu 25oC dan mempunyai titik
beku terendah dari semua logam,yaitu -38,9oC.
2. Kisaran suhu dimana merkuri terdapat
dalam bentuk cair sangat lebar, yaitu 396oC, dan pada kisaran suhu
ini merkuri mengembang secara merata.
3. Merkuri mempunyai volatilitas yang
tertinggi dari semua logam.
4. Ketahanan listrik merkuri sangat
rendah sehingga merupakan konduktor yang baik dari semua logam.
5. Merkuri dan komponen-komponennya
bersifat racun terhadap semua makhluk hidup.
6. Sifat penting merkuri lainnya adalah
kemampuannya untuk melarutkan logam dan membentuk logam paduan yang dikenal
sebagai amalgam. Emas dan perak adalah logam yang dapat terlarut dengan
merkuri.
2.4 Bahaya merkuri
2.4.1. Bahaya Merkuri terhadap Tubuh
Manusia
Semua
bentuk merkuri
baik dalam bentuk metil maupun dalam bentuk alkil yang masuk ke dalam tubuh
manusia secara terus-menerus akan menyebabkan kerusakan permanen pada otak,
hati dan ginjal (Roger, et al dalam Alfian, 2006).
Ion
merkuri
menyebabkan pengaruh toksik, karena terjadinya proses presipitasi protein
menghambat aktivitas enzim dan bertindak sebagai bahan yang korosif. Merkuri
juga terikat oleh gugus sulfhidril, fosforil, karboksil, amida dan amina, di
mana dalam gugus tersebut merkuri dapat menghabat fungsi enzim.
Bentuk
organik seperti metil-merkuri, sekitar 90% diabsorpsi oleh dinding us, hal ini jauh lebih besar daripada bentuk anorganik (HgCl2¬)
yang hanya sekitar 10%. Akan tetapi bentuk merkuri anorganik ini kurang
bersifat korosif daripada bentuk organik. Bentuk organik tersebut juga dapat
menembus barrier darah dan plasenta sehingga dapat menimbulkan pengaruh
teratogenik dan gangguan syaraf (Darmono dalam Alfian, 2006).
Diagnosis
toksisitas Hg tidak dapat dilakukan dengan tes biokimiawi. Indikator toksisitas
Hg hanya dapat didiagnosis dengan analisis kadar Hg dalam darah atau urine dan
rambut (Alfian, 2006). Kadar threshold value metil merkuri untuk dapat
menimbulkan gejala klinis bagi orang dewasa yang peka adalah:
2. Konsentrasi
pada rambut sebesar 50 – 125 mikrogram/g2 (Ramade F dalam Martono,
2005).
Semua
bentuk merkuri, baik dalam bentuk unsur, gas maupun dalam bentuk garam organik
adalah beracun.Alkil merkuri merupakan komponen yang paling beracun karena
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Alkil
merkuri dengan mudah melakukan penetrasi dan terkumpul di dalam tenunan otak
karena komponen ini mudah menembus membran biologi.
2. Alkil
merkuri mempunyai waktu retensi yang lama di dalam tubuh sehingga konsentrasi
di dalam tubuh semakin lama semakin tinggi, meskipun dosis yang masuk ke dalam
tubuh makin rendah. Komponen ini diperkirakan mempunyai waktu paruh di dalam
tubuh selama 70 hari.
3. Alkil
merkuri dapat dibentuk dari merkuri anorganik oleh aktifitas mikroorganisme
anaerobik tertentu. Transformasi ini dibuktikan terjadi dengan mudah di dalam
lumpur pada dasar sungai dan danau. Proses transformasi ini belum dibuktikan
terjadi di dalam tubuh, tetapi beberapa mikroorganisme yang ditemukan di dalam
saluran us hewan yang ditemukan dapat melakukan proses
transformasi tersebut.
Dalam
lingkungan perairan, merkuri
anorganik dikonversi oleh mikroorganisme menjadi metil merkuri yang sangat
beracun dan sangat mudah terserap ke dalam jaringa. Sekitar 90% kandungan
merkuri dalam ikan berupa metil merkuri (Ramade F dalam Martono, 2005).
Selanjutnya
dapat dikemukakan bahwa sekitar 95% metil merkuri yang masuk ke dalam tubuh
diserap oleh us yang sebagian besar tertahan dalam
jaringan tubuh, dan kurang dari 1% yang dikeluarkan lagi dari dalam tubuh
(Mason CF dalam Martono, 2005).
Perairan
yang telah tercemar logam
berat merkuri bukan hanya
membahayakan komunitas biota yang hidup dalam perairan tersebut, tetapi juga
akan membahayakan kesehatan manusia. Hal ini karena sifat logam berat yang
persisten pada lingkungan, bersifat toksik pada konsentrasi tinggi dan
cenderung terakumulasi pada biota (Kennish dalam Masriani, 2003).
Senyawa
metil merkuri yang merupakan hasil dari limbah penambangan emas masuk ke dalam
rantai makanan, terakumulais pada ikan dan biota sungai. Oleh karena itu
manusia akan mengalami keracunan jika memakan ikan dan biota perairan yang
tercemar logam tersebut.
Penyakit minamata adalah penyakit
gangguan sistem syaraf pusat yang disebabkan oleh keracunan metil merkuri.
Tidak ditemukan kerusakan pada organ lain kecuali pada sistem syaraf pusat
(Martono, 2005).
Sistem syaraf pusat merupakan target
organ dari toksisitas metil merkuri tersebut, sehingga gejala yang terlihat
erat hubungannya dengan kerusakan sistem syaraf pusat. Gejala yang timbul
adalah sebagai berikut:
1. Gangguan syaraf sensori:
paraesthesia, kepekaan menurun dan sulit menggerakkan jari tangan dan kaki,
penglihatan menyempit, daya pendengaran menurun, serta rasa nyeri pada lengan
dan paha.
2. Gangguan syaraf motorik: lemah,
sulit berdiri, mudah jatuh, ataksia, tremor, gerakan lambat dan sulit bicara.
3. Gangguan lain: gangguan mental,
sakit kepala dan hipersalivasi (Alfian, 2006).
Merkuri mempunyai efek yang buruk
bagi tubuh. Beberapa efek tersebut adalah sebagai berikut :
1. Efek merkuri pada kesehatan tubuh
terutama berkaitan dengan sistem syaraf, yang sangat sensitif pada semua
bentuk merkuri .
2. Metil merkuri dan uap merkuri logam
lebih berbahaya dari bentuk-bentuk merkuri yang lain, sebab merkuri dalam kedua
bentuk tersebut dapat lebih banyak mencapai otak.
3. Pemaparan kadar tinggi merkuri, baik
yang berbentuk logam, garam, maupun metil merkuri dapat merusak secara permanen
otak, ginjal, maupun janin.
4. Pengaruh pada fungsi otak dapat
mengakibatkan tremor, pengurangan pendengaran atau penglihatan, dan pengurangan
daya ingat.
5. Pemaparan dalam waktu singkat pada
kadar merkuri yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan paru-paru,
muntah-muntah, peningkatan tekanan darah (hipertensi) atau denyut jantung,
kerusakan kulit dan iritasi mata.
Selain mempunyai efek yang buruk
bagi tubuh, merkuri juga memiliki manfaat yang biasa digunakan dalam berbagai
peralatan ilmiah. Yaitu sebagai berikut:
1. Merkuri banyak digunakan dalam
thermometer karena memiliki koefisien yang konstan, yaitu tidak terjadi
perubahan volume pada suhu tinggi maupun rendah.
2. Merkuri juga digunakan sebagai
peralatan pompa vacum, barometer, lampu asap merkuri sebagai sumber sinar
ultraviolet (UV), dan
3. Merkuri juga dapat digunakan sebagai
insektisida
Merkuri atau air raksa (Hg)
merupakan golongan logam berat dengan nomor atom 80 dan berat atom 200,6.
Merkuri merupakan unsur yang sangat jarang dalam kerak bumi, dan relatif
terkonsentrasi pada beberapa daerah vulkanik dan endapan-endapan mineral biji
dari logam-logam berat. Merkuri digunakan pada berbagai aplikasi seperti
amalgam gigi, sebagai fungisida, dan beberapa penggunaan industri termasuk
untuk proses penambangan emas. Dari kegiatan penambangan tersebut menyebabkan
tingginya konsentrasi merkuri dalam air tanah dan air permukaan pada daerah
pertambangan. Elemen air raksa relatif tidak berbahaya kecuali kalau menguap
dan terhirup secara langsung pada paru-paru.
Bentuk racun dari air raksa pada
proses masuk pada tubuh manusia adalah methyl mercury (CH3Hg+ dan CH3-Hg-CH3)
dan garam organik, partikel mercuric khlor (HgCl2). Methyl mercury dapat
dibentuk oleh bakteri pada endapan dan air yang bersifat asam. Ion merkuri
anorganik adalah bersifat racun akut. Elemen merkuri mempunyai waktu tinggal
yang relatif pendek pada tubuh manusia tetapi persenyawaan methyl mercury
tinggal pada tubuh manusia 10 kali lebih lama merkuri berbentuk metal (logam)
dan menyebabkan tidak berfungsinya otak, gelisah/gugup, ginjal, dan kerusakan
liver pada kelahiran (cacat lahir).
Methyl mercury terakumulasi pada
rantai makanan, sebagai contoh adalah merkuri bisa masuk ke dalam tubuh manusia
dengan mengkonsumsi ikan yang hidup pada perairan yang tercemar merkuri.
Senyawa phenyl mercury (C6H5Hg+ dan C6H5-Hg-C6H5) bersifat racun moderat dengan
waktu tinggal yang pendek pada tubuh tetapi senyawa ini berubah bentuk secara
cepat pada lingkungan menjadi bentuk merkuri anorganik. Dari survei efek
bahaya, merkuri ini adalah bersifat racun bagi semua bentuk kehidupan, dan
bersifat lambat untuk dikeluarkan dari tubuh manusia. Methyl mercury beracun 50
kali lebih kuat daripada merkuri anorganik.
2.4.2.
Bahaya Merkuri terhadap Lingkungan Ekosistem
Kandungan merkuri dalam cat bukan hanya membahayakan kesehatan. Logam ini
juga berpengaruh buruk bagi lingkungan. Bahaya
merkuri bagi lingkungan bisa berakibat pada ketidakseimbangan ekosistem. Toksiksitas
merkuri bukan hanya berpengaruh pada kehidupan manusia. Logam berat ini dapat
masuk ke dalam siklus ekosistem dan menyebabkan gangguan pada banyak organisme
yang terlibat dalam rantai makan-memakan. Bahaya merkuri bagi
lingkungan ditunjukkan dengan penumpukan logam berat ini pada
organisme dengan tingkat trofik tertentu. Bila hal ini terus dibiarkan,
kerusakan alam akan terjadi dan berimbas negatif pada kehidupan manusia.
Dalam kehidupannya, organisme memerlukan
energi untuk terus tumbuh dan berkembang. Untuk mendapatkan energi, organisme
menggunakan cara yang variatif. Tumbuhan mendapatkan energi dengan
berfotosintesis sedangkan hewan mendapatkan energi dengan mengkonsumsi tumbuhan
atau hewan lain. Perbedaan cara mendapatkan energi ini menciptakan suatu
rangkaian makan-memakan pada suatu wilayah tertentu. Spesies-spesies dapat
diurutkan berdasarkan posisinya pada rantai makan-memakan (tingkat trofik).
Materi dan energi mengalir pada sebuah ekosistem dan mendukung sebuah sistem
yang seimbang. Sayangnya, keseimbangan ekosistem tersebut dapat terganggu oleh
adanya polutan seperti merkuri.
Logam berat merkuri bersifat toksik
untuk makhluk hidup. Akumulasi merkuri dapat menyebabkan gangguan sistem
pernafasan, gagal ginjal, hingga kematian. Logam ini dapat berakumulasi pada
organisme tertentu, seperti ikan. Akumulasi lebih lanjut akan terjadi pada
tubuh pemakan ikan. Bila hal ini diteruskan, organisme yang berada di puncak
rantai makanan akan terancam hidupnya sehingga akan mengganggu jalannya aliran
energi suatu ekosistem.
Ketidakseimbangan ekosistem ini juga
dapat berimbas negatif bagi kehidupan manusia. Konsumsi hewan-hewan seperti
ikan yang hidup di perairan dengan kadar merkuri yang tidak sehat juga akan
mengancam keselamatan manusia. Nutrisi ikan yang tinggi tidak akan begitu
berguna bila harus dikompensasi dengan keracunan logam berat merkuri.
Fungisida dan pestisida adalah dua dari
beberapa jenis sumber pencemaran logam merkuri. Selain itu, berbagai jenis cat
yang biasa digunakan untuk kayu dan tembok juga bisa menjadi sumber pencemaran
merkuri. Jenis cat dengan kadar merkuri tinggi biasanya ditemukan pada cat-cat
berbasis minyak. Pada jenis cat tersebut, merkuri umumnya dijadikan campuran
anti jamur atau pigmen. Cat-cat tersebut bila tumpah ke lingkungan atau
residunya dibiarkan begitu saja mencemari alam, jelas akan menganggu
keseimbangan ekosistem. Bahaya merkuri bagi lingkungan sebaiknya dihindari
dengan menjauhi sumber pencemar merkuri ini.
2.5 Adsorpsi
Adsorpsi merupakan salah satu sifat-sifat
sistem koloid. Adsorpsi adalah suatu proses
penyerapan partikel suatu fluida (cairan maupun gas) oleh suatu padatan
hingga terbentuk suatu film (lapisan tipis) pada permukaan adsorben. Padatan
yang dapat menyerap partikel fluida disebut bahan pengadsorpsi atau adsorben. Sedangkan zat yang
terserap disebut adsorbat.
Secara umum Adsorpsi didefinisikan sebagai suatu proses penggumpalan substansi
terlarut (soluble) yang ada dalam larutan, oleh permukaan zat
atau benda penyerap, dimana terjadi suatu ikatan kimia fisika antara substansi
dengan penyerapnya. Penyerapan partikel atau ion oleh permukaan koloid atau yang
disebut peristiwa adsorpsi ini dapat menyebabkan koloid menjadi bermuatan
listrik. Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Adsorpsi fisika adalah
proses interaksi antara adsorben dengan adsorbat yang disebabkan oleh gaya Van Der Waals.
Adsorpsi fisika terjadi jika daya tarik menarik antara zat terlarut dengan
adsorben lebih besar dari daya tarik menarik antara zat terlarut dengan
pelarutnya. Kerena gaya tarik menarik yang lemah tersebut maka zat yang
terlarut akan diadsorpsi pada permukaan adsorben. Adsorpsi fisika
biasanya terjadi pada temperatur rendah sehingga keseimbangan antara permukaan
solid dengan molekul fluida biasanya cepat tercapai dan bersifat reversibel.
2. Adsorpsi kimia adalah
reaksi yang terjadi antara zat padat dengan zat terlarut yang teradsorpsi.
Adsorpsi ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya dan kalor yang sama dengan
panas reaksi kimia. Menurut Langmuir,
molekul teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh ikatan valensi yang tipenya
sama dengan yang terjadi antara atom-atom dalam molekul. Ikatan kimia
tersebut menyebabkan pada permukaan adsorbent akan terbentuk suatu lapisan
film.
Adsorpsi memiliki kecepatan. Kecepatan adsorpsi adalah banyaknya zat yang teradsorpsi per satuan waktu.
Kecepatan adsorpsi mempengaruhi kinetika adsorpsi. Kinetika adsorpsi adalah laju penyerapan suatu fluida oleh
adsorben dalam jangka waktu tertentu. Banyak sedikitnya zat yang teradsorpsi di
pengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
1.
Macam adsorben
2.
Macam zat yang diadsorpsi (adsorbate)
3.
Luas permukaan adsorben
4.
Konsentrasi zat yang diadsorpsi
(adsorbate)
5.
Temperatur
Adsorpsi memegang peranan penting dalam berbagai industri. Manfaat
dan kegunaan adsorpsi telah di kenal manusia sejak zaman dahulu kala dan telah
di manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Berikut ini adalah
beberapa contoh manfaat dan
kegunaan adsorpsi dalam industri dan kehidupan manusia yaitu:
1.
Untuk menjernihkan air yang
keruh
- Pemutihan Gula
pasir pada industri gula
- Pemurnian minyak
kelapa sawit
- Pewarnaan serat
wol, kapas atau sutera
- Penggunaan Norit
untuk mengobati sakit perut
- Pembersihan dengan
sabun
- Penyerapan Humus
oleh Tanah liat
BAB
III
METODE PENELITIAN
METODE PENELITIAN
3.1. Alat dan Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah:
Ampas tebu, KOH, AgNO3, Amilum, Natrium tiosulfat, HCl, Air, SEM, XRD,
Spectrofotometer.
3.2. Skema Kerja
3.2.1. Pembuatan
karbon
![]() |
|
![]() |
3.2.2.
Analisis sampel
a.
Uji kadar air
![]() |
b.
Uji daya serap terhadap iodine
![]() |
c.
Kadar abu
![]() |
3.3.Prosedur
Pembuatan Karbon (Karbonisasi)
1) Pada
tahap pertama dilakukan preparasi bahan baku. Bahan baku jika basah maka kita
keringkan, kita oven.
2) Bahan
baku dalam keadaan kering dikarbonisasi di dalam furnace selama 15 menit dengan
suhu pembakaran 300oC, 400oC, 500oC.
3) Arang
yang dihasilkan digiling di krus porselin,
sampai dihasilkan ukuran yang homogen.
4) Kemudian
arang diaktifasi di dalam larutan aktifator, KOH dan AgNO3 0,3 M
dengan waktu aktifasi 24 jam dan 48 jam.
5) Sampel
kemudian disaring dengan kertas saring, dan dicuci dengan aquadest/HCl hingga
pH 7.
6) Sampel
dikeringkan dalam oven dari suhu kamar sampai suhu 120oC selama 2
jam.
7) Sampel
hasil kemudian di uji mutunya dengan metode pengujian yang tertera pada
prosedur analisa.
3.3.
Prosedur Analisa Pengujian Mutu Karbon Aktif
Ada
tiga macam pengujian yang dilakukan pada pembuatan karbon aktif ini yaituuji
kadar air, uji kadar abu dan uji daya serap terhadap iodium.
a. Uji
Kadar Air (SII)
Karbon aktif ditimbang seberat 100 mg
dan dimasukkan ke dalam krus porselin yang telah dikeringkan, kemudian
dimasukkan ke dalam oven pada suhu 115oC selama 3 jam, selanjutnya
sampel karbon aktif didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Kadar air dapat
dihitung dengan persamaan berikut:
Kadar air =
x100%
dengan:
a
= berat karbon aktif mula-mula (gram)
b
= berat karbon aktif setelah dikeringkan (gram)
b. Uji
Daya Serap terhadap Iodium (SII)
Pengujian terhadap daya serap iodium
dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
a. Karbon
aktif ditimbang sebanyak 100 milligram dan dicampurkan dengan 10 ml larutan
Iodium 0,1 N, kemudian dikocok dengan alat pengocok selama 15 menit.
b. Setelah
itu sampel disentrifuge sampai karbonnya turun.
c. Kemudian
dititrasi dengan larutan Natrium Tiosulfat 0,1 N.
d. Jika
warna kuning pada larutan mulai samar, ke dalam larutan tersebut ditambahkan
larutan amilum 1% sebagai indikator sehingga berwarna biru tua.
e. Larutan
dititrasi kembali sampai warna biru tua berubah menjadi warna bening.
Iod yang diadsorbsi mg/g = 
Dimana :
V = Larutan
natrium tio-sulfat yang diperlukan, ml.
N = Normalitas
Larutan natrium tio-sulfat.
12,69 = Jumlah Iod sesuai dengan 1 ml larutan
natrium tio-sulfat 0,1 N
W =
Contoh, gram.
c. Uji
Kadar Abu
Karbon aktif yang ditimbang seberat 100
mg dimasukkan ke dalam kurs porselin yang telah diketahui beratnya. Lalu
diabukan dalam furnace secara perlahan setelah semua karbon hilang. Nyala
diperbesar pada suhu 880oC selama 2 jam. Bila seluruh karbon telah
menjadi abu, dinginkan dalam desikator lalu ditimbang hingga diperoleh bobot
tetapnya.
Kadar
abu = 
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
analisis karbon aktif ampas tebu dengan memvariasikan suhu dan waktu aktivasi
dapat kita lihat seperti berikut:
|
No
|
Uraian
|
Sampel
|
Prasyarat (%)
|
Kualitas (%)
|
|
1
|
Kadar air
|
3000 C 24
jam
|
Maks 15
|
11.7
|
|
|
|
4000 C 24
Jam
|
|
8.7
|
|
|
|
5000 C 24
jam
|
|
89.7
|
|
|
|
3000 C 48 jam
|
|
7.8
|
|
|
|
4000 C 48
Jam
|
|
2.5
|
|
|
|
5000 C 48 jam
|
|
8.3
|
|
2
|
Kadar abu
|
3000 C 24
jam
|
Maks 10
|
1.2
|
|
|
|
4000 C 24
Jam
|
|
22.1
|
|
|
|
5000 C 24
jam
|
|
76.5
|
|
|
|
3000 C 48 jam
|
|
31.4
|
|
|
|
4000 C 48
Jam
|
|
49.2
|
|
|
|
5000 C 48 jam
|
|
41
|
|
3
|
Daya serap
|
3000 C 24
jam
|
Min. 20
|
25.38
|
|
|
|
4000 C 24
Jam
|
|
6.35
|
|
|
|
5000 C 24
jam
|
|
3.17
|
|
|
|
3000 C 48 jam
|
|
9.51
|
|
|
|
4000 C 48
Jam
|
|
9.5
|
|
|
|
5000 C 48 jam
|
|
9.5
|


Gambar 1. Pola
XRD suhu 300 C dan 24 Jam
Dimana sumbu y=
2 theta
Sumbu x = Peak/puncak
Gambar
2. Pola SEM saat suhu 300 C dan waktu 24 jam
Dari
hasil analisis data di atas, maka dapat kita lihat bahwa zat arang akan lebih
aktif pada pemanasan 3000 C dan waktu 24 jam. Dimana, pada suhu ini
dihasilkan struktur karbon yang berbentuk Kristal yang tidak beraturan dan
tidak memiliki tegangan sama sekali. Sehingga akan menyebabkan karbon lebih
menyerap kadar logam berat yang mengenainya.
Struktur kristal amorf pada zat arang akan lebih memudahkan zat arang aktif
untuk berikatan dengan senyawa logam yang bereaksi dengannya. Berdasarkan
hasil pencitraan diatas dapat kita perhatikan bahwa struktur karbon yang
didapatkan adalah struktur kristal amorf yang dimana memiliki ukuran sebesar
< 2000 amstrong. Dari hasil karakteristik dihasilkan bahwa ukuran pori-pori terbesar
dari karbon adalah 1,57 µm dan pori-pori terkecilnya adalah 0,418 µm. dimana,
kecilnya besar pori-pori dari arang aktif ini akan mengakibatkan daya serap
karbon terhadap logam akan lebih kuat.
4.2. Pengaruh Waktu
Aktivasi Terhadap Mutu Arang Aktif
Berdasarkan
tabel diatas tampak bahwa peningkatan waktu aktivasi menyebabkan penurunan
kualitas zat arang. Semakin lama waktu aktivasi, maka kadar karbon juga akan
menurun dan keaktivannya pun akan berkurang.
Sementara
itu, bila kita lihat pengaruh aktivasi terhadap kadar abu, maka dapat kita
saksikan bersama bahwa semakin lama waktu aktivasi maka akan terjadi
peningkatan kadar abu pada sampel. Dan berdasarkan hasil penelitian, kadar abu
yang memenuhi syarat Standar Indonesia (SNI) terdapat pada suhu 3000
C dan pada waktu aktivasi 24 jam yaitu sebesar 1.2%. Adapun pengaruh dari kadar
abu adalah tingginya kadar abu pada karbon dapat mengurangi daya serap arang
aktif terhadap gas dan larutan, karena mineral seperti kalsium, kalium,
magnesium, dan natrium menyebar dalam kisi arang aktif, dan mempengaruhi
pembentukan lebar lapisan kristalit (Manivannan, et al 1999).
Dan
pengaruh waktu aktivasi terhadap penyerapan iodine memenuhi standart pada suhu
3000 C dan waktu aktivasi selama 24 jam yaitu dimana mencapai 25,38%.
Dan dari data di atas dapat kita lihat bahwa waktu aktivasi paling baik untuk
karbon aktif dari bagasse adalah dengan waktu 24 jam.
4.3. Pengaruh
Temperatur Terhadap Mutu arang Aktif
Dari
hasil data pada tabel 1. Juga menunjukkan bahwa karbon aktif yang paling bagus
dihasilkan oleh suhu paling rendah yaitu 3000 C. Rata-rata daya
serap karbon aktif tidak memenuhi standar Indonesia (SNI) kecuali pada suhu
karbonisasi 3000 C. Dan daya
serap paling tinggi juga dihasilkan oleh suhu karbonisasi paling rendah. Hal
ini disebabkan karena pada suhu yang rendah pori-pori dari karbon aktif tidak
akan menyusut, sehingga tingkat penyerapan semakin tinggi.
BAB V
KESIMPULAN
1. Arang
aktif yang terbaik diperoleh pada aktivasi 24 jam dan pada suhu 3000
C.
2. Semakin
tinggi waktu pengaktivasian, maka mutu dari karbon akan semakin berkurang dan
semakn tidak layak digunakan sebagai adsorben.
3. Semakin
tinggi suhu pengkarbonisasian pada bagasse akan mengurangi kualitas dari karbon
aktif,karena pada suhu yang tinggi karbon akan relative berubah menjadi abu,
dan dengan adanya abu akan menurunkan daya serap dari karbon tersebut.
4. Berdasarkan hasil peneltian dapat disimpulkan bahwa ampas
tebu dapat dipergunakan sebagai alternati untuk pembuatan arang aktif yang
berfungsi untuk menyerap logam-logam berat khususnya merkuri.
DAFTAR
PUSTAKA
Alfian,
Z. 2006. Merkuri: Antara Manfaat dan
Efek Penggunaannya Bagi Kesehatan Manusia dan Lingkungan. [Online]. Avaliable:
http://library.usu.ac.id/download/e-book/zul%20alfian.pdf.
Pari,
Gustan.2012. Pengaruh Lama Aktivasi
Terhadap Struktur Kimia Dan Mutu Arang Aktif serbuk Gergaji Sengon. Forda.Mof
Nurdiansyah,
Haniffudin. 2013. Pengaruh Temperatur
Karbonisasi dan temperature Aktivasi Fisika dari Elektroda Karbon Aktif
Tempurung Kelapa dan Tempurung Kluwak Terhadap Nilai Kapasitansi Eletric Double
Capacitor (EDLC). Jurnal Tekhnik Material dan Metalurgi POMITS Vol.2 No.1,
Fakultas Tekhnik Industri: ITSN.
S.
Salamah.2001.” Pembuatan Karbon Aktif
dari Tempurung Kelapa dengan Perlakuan Karbonat”. In prosidingSeminar
Nasional “Kejuangan Tekhnik kimia: Yogyakarta.
SNI.1995. Arang Aktif Tekhnis. Standar Nasional
Indonesia. SNI 06-3730-1995: Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
Pari,
Gustan.2012. Pengaruh Lama Aktivasi Terhadap Struktur Kimia Dan Mutu Arang Aktif
serbuk Gergaji Sengon. Forda.Mof
Nurdiansyah,
Haniffudin. 2013. Pengaruh Temperatur Karbonisasi dan temperature Aktivasi
Fisika dari Elektroda Karbon Aktif Tempurung Kelapa dan Tempurung Kluwak
Terhadap Nilai Kapasitansi Eletric Double Capacitor (EDLC). Jurnal Tekhnik
Material dan Metalurgi POMITS Vol.2 No.1, Fakultas Tekhnik Industri: ITSN.
S.
Salamah.2001.” Pembuatan Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa dengan Perlakuan
Karbonat”. In prosidingSeminar Nasional “Kejuangan Tekhnik kimia: Yogyakarta.
SNI.1995.
Arang Aktif Tekhnis. Standar Nasional Indonesia. SNI 06-3730-1995: Badan
Standardisasi Nasional, Jakarta.
Zahira. Bahaya Merkuri.http://zahirastore.blogspot.com/p/bahaya-merkuri.html
http://www.jejaringkimia.web.id/2010/03/dampak-merkuri-terhadap-manusia-dan.html
Achmad,
R. 2004. Kimia Lingkungan.
Yogyakarta: ANDI
Fardiaz,
S. 1992. Polusi Air dan Udara.
Yogyakarta: Konisius.
Hutabarat,
S dan Steward M E. 1985. Pengantar
Oseanografi. Jakarta: UI-Press.
Martono,
H. 2005. Penanganan Kasus Keracunan
Metil Merkuri di Minamata. Laporan
Penelitian. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekologi
Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Masriani
dan Eny E. 2003. Usaha Pemanfaatan
Kepah (Batissa Sp) Sebagai Bioindikator Tingkat Cemaran Logam Berat Pb dan Cd
di Perairan Sungai Kapuas. Laporan Penelitian. Pontianak: FKIP UNTAN.
Anonim.
2010.http://id.wikipedia.org/ wiki/Arang.
Notoatmodjo,
S. 2003.
Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.




